Minggu, 09 Oktober 2011

Kulihat Mentari di Matamu, Dik!

Cerpen ini pernah saya ikutkan untuk lomba dengan tema Pernikahan Dini pada tanggal 14 maret 2011...



KULIHAT MENTARI DI MATAMU, DIK!

 

Oleh : M.Yusuf Putra Sinar Tapango


“Haaa… Om, serius?” Tanyaku dengan terperanjat kaget.
”Iya, Nak Rendy! om serius, adikmu harus menikah. Ini semua adalah hukum adat, harga diri adalah diatas segalanya.” Kata omku. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Dadaku terasa penuh sesak. Sedih. Wajah adik bungsuku kemudian bermain di alam pikiranku. Seolah masih tak percaya  mendengar berita ini. Adik bungsuku harus menikah. Usianya 15 tahun kelas 3 SMP. Ia adalah harapanku di masa yang akan datang. Aku ingin menyokalahkannya hingga jengjang yang lebih tinggi semampuku. Kabar berita ini membuatku shock. Secepat itukah adikku harus kehilangan masa remajanya. Hukum adatlah yang bicara, ia dianggap telah membawa kabur anak gadis orang. Dalam hukum adat kami di Sulawesi Barat, bila seorang anak gadis telah diajak pergi oleh pria tanpa sepengetahuan orang tua, maka dia harus bertanggung jawab untuk menikahinya. Karena keluarga si gadis, menganggap bahwa perbuatan ini telah mencoreng nama baik keluarga mereka. Om Hatta menceritakan dengan seksama kejadian sebenarnya secara detail. Dia menambahkan lagi, bahwa ibu menentang keras. Bahkan ibu sekarang sering tak sadarkan diri, karena shock atas kejadian ini. Tapi keluarga perempuan telah murka. Ini adalah aib keluarga katanya. Malu dan harga diri di atas segalanya. Keluarga mereka mengancam akan terjadi pertumpahan darah, kalau hukum adat ini di langgar. Ancaman. Tiba-tiba amarahku membuncah bahkan sampai ke ubun-ubun. Tak terasa tanganku mencengkram erat handphone-ku, seolah-olah ingin kuhancur leburkan karena menahan emosi. Naluri laki-lakiku serasa terusik. Keluargaku di ancam. Bathinku teriak. Berani sekali mereka. Mereka adalah pendatang yang baru tinggal beberapa bulan di kampungku. Bahkan mereka mungkin tidak tahu, kalau keluarga kami disana adalah keluarga yang terhormat. Terpandang. Tapi untuk menjaga kehormatan keluarga itulah, kita harus menghargai hukum adat yang berlaku. Hukum adat yang telah ada sebelum aku lahir, bahkan mungkin sebelum kakek nenek pun lahir. Aku menghirup nafas yang panjang dan membuangnya pelan-pelan. Mencoba menguasai emosi yang meledak-ledak. Kemudian melanjutkan percakapan.
”Om..terus kapan Adikku Farel akan di nikahkan?” Tanyaku
”Besok nak. Mereka akan dinikahkan secara adat oleh imam mesjid di kampung kita, resepsi pernikahan mereka akan kita bicarakan kemudian. Ini sudah menjadi kesepakatan keluarga. Kita harus menerima semua ini dengan lapang dada. Mari kita mendoakan agar adikmu bahagia dalam pernikahannya. Yah… ini pernikahan dini, nak.” Jawab omku dengan suara yang berat. Aku pun tak dapat lagi berkata-kata. Bagi keluarga kami, ini adalah musibah. Nasi telah menjadi bubur, Allah SWT telah memberikan cobaan ini, kami semua harus ikhlas. Besok adikku akan menikah. Pernikahan itu sudah pasti tidak akan tercatat di catatan sipil KUA(kantor urusan Agama) karena mereka belum cukup umur. Tapi jika hukum adat yang bicara, maka semua bisa terjadi. Akupun menarik nafas yang panjang. Sedih kurasakan membayangkan adikku pada pernikahan dininya. Bahkan aku sebagai kakak sulungnya saja belum menikah. Semakin sedih kurasakan karena sudah kupastikan aku tak dapat menghadiri sesi ijab kabulnya. Karena kini aku sedang mengadu nasib di Jakarta. Yah Allah Semoga ini adalah yang terbaik buat adikku, doaku.          
            Malam itu aku duduk termenung di teras lantai dua kost-kostanku. Kupandangi bulan sabit  dengan bintang yang mengitarinya. Kunikmati suara bising kendaraan dan hiruk pikuk orang yang lalu lalang. Angan-anganku pun melayang jauh.  Kini aku merasa benar-benar jauh dari keluarga. Merantau. Sendiri dan mandiri. Aku tiba-tiba rindu kampung halaman. Rindu kehangatan keluargaku. Rindu almarhum bapak, rindu ibu dan adik-adik. Rindu sahabat-sahabatku. Rindu suasana kampung yang tenang damai. Ketika di kampung dulu, aku juga suka memandangi bulan dan bintang di teras depan rumah. Suara burung malam, dan nyanyian kodok dari persawahan belakang rumah kami, merupakan keindahan tersendiri dan tak pernah kutemukan lagi, setelah sekian tahun merantau ke Jakarta. Sebagai anak sulung akulah kini pengganti bapakku. Aku punya tanggung jawab yang besar terhadap ketiga adik-adikku yang kesemuanya laki-laki. Adik kedua dan ketigaku keduanya biasa-biasa saja. Wajah lucu adikku si bungsu Farel kemudian bermain dalam lamunanku. Ah..Farel masih teringat jelas ketika aku selalu mengajarinya, menulis dan membaca sewaktu dia masih kecil. Mengajarinya matematika dasar, perkalian, pembagian, pengurangan, semuanya sesuai dengan kemampuanku. Dia anak yang cerdas. Tanggap. Jenius. Dulu sewaktu SD sepulang sekolah  maka dia wajib menemuiku, lalu memperlihatkan buku pelajarannya padaku. Aku selalu bangga bila membuka buku tulisnya, karena disana setiap nilai yang tertulis oleh gurunya, hampir semua adalah angka 100. Sejak kelas 1 Sekolah Dasar Farel selalu juara kelas, ranking 1 dan menjadi ketua kelas. Di sukai banyak guru dan teman-temannya. Kulihat mentari di matamu dik, gumamku dalam hati, saat kulihat dia. Sejak saat itu pula, maka harapan besar tumbuh di dalam dadaku. Aku ingin menyekolahkannya hingga jengjang yang paling tinggi. Aku akan bekerja keras untuk itu. Itulah tekadku. Dan berharap suatu hari nanti, semoga dia akan menjadi kebanggaan keluarga kami. Tapi kini, aku merasa semua harapan dan impianku itu, akan terkubur oleh kerasnya hukum adat di kampungku. Adik kecilku yang jenius itu, harus menikah di usianya yang masih sangat mudah. Remaja yang baru berusia 15 tahun kelas 3 SMP. Pun calon istrinya baru berusia 13 tahun. Entahlah  aku sebagai pria tidak tahu menahu, apakah wanita di usia seperti itu sudah datang bulan. Ah..tiba-tiba kurasakan perih di dada. Adikku Farel kini telah remaja, dan telah memulai petualangan cinta monyetnya. Semua berawal ketika Farel mulai jatuh hati kepada gadis remaja, yang bernama Antie calon adik iparku itu. Gayung pun bersambut, terjalinlah kasih asmara dua remaja yang baru mengenal cinta itu. Entahlah seperti apa perkenalan mereka, mungkin lewat surat suratan, atau mungkin hanya kedip kedipan mata. Yang pasti mereka saling menyukai, cinta telah bersemi pada keduanya. Hingga suatu hari menjelang pergantian tahun, adikku Farel hendak pergi merayakan pergantian tahun baru bersama teman sekolahnya  di Kalimantan Timur tepatnya di Kota Balikpapan. Antie pun diajak serta tanpa seizin orang tuanya dan seizin ibuku tentunya. Layaknya anak remaja yang sudah mulai bandel, mereka nekat. Akhirnya kedua orang tua Antie,  tidak menerima perbuatan Farel. Seperti itulah penjelasan Om Hatta lewat telepon. Kembali kurasakan sedih dan masih seakan tak percaya atas kenyatan ini. Teringat wajah ibu membuatku semakin hanyut dalm kesedihan. Aku yakin beliau pasti begitu terpukul atas kejadian ini. Lalu wajah bapak bermain di alam hayalku. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba menyelimuti. Aku merasa gagal menjaga adik-adik. Maafkan aku bapak, ini semua di luar kendaliku, kini aku jauh dari rumah, tapi ini semua kulakukan untuk keluarga juga, gumamku dalam hati.
***
          Aku menikmati pemandangan indah, saat menyusuri jalan-jalan menuju kampung halamanku. Gunung-gunung yang menjulang meski tidak terlalu tinggi, hamparan luas persawahan di kiri  kanan  menghadirkan kedamaian bila memandanginya. Aku pulang wahai kampungku, kata hatiku menyapa. Dari kejauhan, terlihat tenda besar berdiri di depan rumahku. Banyak orang yang sedang berkumpul disana.  Aku menghela nafas. Sebulan kemudian setelah ijab kabulnya, besok akan diadakan resepsi pernikahan adikku Farel. Aku minta cuti 3 hari di kantor, untuk hadir di acara ini. Mobil angkutan yang mengantarku, berhenti tepat di depan tenda. Saat turun dari mobil, seluruh keluarga menyambut termasuk ibuku. Beliau tersenyum hambar. Aku segera mencium tangan dan memeluknya. Air mata ibu mengucur deras dari matanya. Jadi terharu di buatnya. Aku kangen sekali dengan ibu, 3 tahun sudah kami tak bertemu . Lalu tiba-tiba muncul adikku Farel memelukku dan menangis.
“Kak Rendy, maafkan Farel kak!” Kata Farel dalam isak tangisnya. Aku memeluknya. Kusandarkan di dadaku. Rambutnya kubelai seperti dulu sewaktu dia masih kecil. Kucoba memberi kehangatan padanya. Tak ada yang salah. Ini adalah takdir yang telah digariskan yang maha kuasa dik, gumamku dalam hati.
“Hei..Farel kecilku, ternyata  kamu sudah tumbuh besar dan  seganteng ini.” Kuangkat wajahnya. Kutatap matanya. Aku mencoba tetap tegar, meski air mataku kurasakan telah mengalir perlahan.
“Kenapa minta maaf dik, kamu tidak salah. Ini adalah jalan hidupmu, pasti akan ada hikmah di balik ini semua, Jalani saja seperti air yang mengalir.  Semoga kamu selalu bahagia, dan ingat cepat beri ponakan buat kakak yah...” Aku mencoba menyemangati dan mencandainya. Tak perlu ada penyesalan. Tak perlu bertanya mengapa ini terjadi. Aku datang bukan untuk menghakimi, tapi ingin memberinya kekuatan, agar dia tetap tegar dan membuatnya selalu tersenyum, meski kusadari usianya terlalu mudah untuk memikul beban hidupnya ini. Kutatap matanya dalam-dalam dan masih tetap kulihat mentari bersinar di sana.
                Hari itu resepsi pernikahan Farel dan Antie begitu ramai oleh tamu undangan yang hadir. Banyak air mata yang jatuh. Yah, para tamu udangan itu sebagian seolah masih tak percaya, dengan apa yang disaksikan di depan mata mereka. Kulirik  Farel dan istrinya, senyum mengembang selalu menghiasi bibir mereka berdua. Saling memandang. Saling melempar senyum. Tangan mereka pun saling menggenggam, seolah tak ingin terpisah. Lalu MC memanggil kedua mempelai untuk membawakan sebuah lagu. Semua tamu yang hadir  bertepuk tangan. Aku sedikit kaget, bertanya dalam hati, sejak kapan Farel bisa  bernyanyi. Musik mengalun, dan suaranya ternyata dahsyat, mendayu-dayu saat dia menyanyikan lagu HANYA INGIN KAU TAU milik Revublik band. Tangannya istrinya digenggam erat. Ah..indahnya cinta mereka. Tiba-tiba aku teringat bapak. Seandainya saja beliau ada disini menyaksikan kebahagiaan mereka. Tak terasa bulir-bulir air mata ini menetes perlahan. Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Farel dan istrinya membantu usaha kecil-kecilan ibu  di rumah. Farel pun tetap sekolah. Setamat SMU aku kemudian menyuruhnya untuk mengikuti kursus servise handphone. Dasar si anak cerdas ia dengan cepat menguasai semuanya. Dengan modal pas-pasan mulailah ia membuka toko HP+servise, ternyata usahanya berkembang. Aku pulang kerumah, lalu menyarankannya untuk kuliah, dan tetap menjalankan usahanya. Tekadku untuk menyekolahkannya ke jenjang yang lebih tinggi, tetap harus  kuwujudkan. Awalnya dia ragu tapi kuyakinkan dia, bahwa sebuah usaha itu, tidak selamanya akan terus bertahan.
“Aku akan membiayai kuliahmu dik. Aku akan bekerja keras untuk itu!” Kataku meyakinkannya. Farel diam. Memelukku. Air matanya mengalir perlahan.  Kutatap matanya. Masih seperti dulu, tetap kulihat mentari dimatamu dik, gumamku dalam hati.
THE END

Rabu, 05 Oktober 2011

Surat Kecil Untuk Bunda

Tulisan ini saya copy paste dari seorang teman yang bernama TRI WAHYUNINGTYAS SANTOSO dia mengshare tulisan ini ke inbox saya, entah siapa penulisnya dia juga tidak tahu. Siapa pun penulisnya bagi saya ini sangat menyentuh...



SURAT KECIL UNTUK BUNDA


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarrakatuh
Teruntuk Bundaku tersayang...

Dear Bunda...

Bagaimana kabar bunda hari ini? Smoga bunda baik-baik saja...nanda juga di sini baik-baik saja bunda... Allah sayang banget deh sama nanda. Allah juga yang menyuruh nanda menulis surat ini untuk bunda, sebagai bukti cinta nanda sama bunda....

Bunda, ingin sekali nanda menyapa perempuan yang telah merelakan rahimnya untuk nanda diami walaupun hanya sesaat...

Bunda, sebenarnya nanda ingin lebih lama nebeng di rahim bunda, ruang yang kata Allah paling kokoh dan paling aman di dunia ini, tapi rupanya bunda tidak menginginkan kehadiran nanda, jadi sebagai anak yang baik, nanda pun rela menukarkan kehidupan nanda demi kebahagiaan bunda. Walaupun dulu, waktu bunda meluruhkan nanda, sakit banget bunda....badan nanda rasanya seperti tercabik-cabik... dan keluar sebagai gumpalan darah yang menjijikan apalagi hati nanda, nyeri, merasa seperti aib yang tidak dihargai dan tidak diinginkan.

Tapi nanda tidak kecewa kok bunda... karena dengan begitu, bunda telah mengantarkan nanda untuk bertemu dan dijaga oleh Allah bahkan nanda dirawat dengan penuh kasih sayang di dalam syurga Nya.

Bunda, nanda mau cerita, dulu nanda pernah menangis dan bertanya kepada Allah, mengapa bunda meluruhkan nanda saat nanda masih berupa wujud yang belum sempurna dan membiarkan nanda sendirian di sini? Apa bunda tidak sayang sama nanda? Bunda tidak ingin mencium nanda? Atau jangan-jangan karena nanti nanda rewel dan suka mengompol sembarangan? Lalu Allah bilang, bunda kamu malu sayang... kenapa bunda malu? karena dia takut kamu dilahirkan sebagai anak haram... anak haram itu apa ya Allah? Anak haram itu anak yang dilahirkan tanpa ayah... Nanda bingung dan bertanya lagi sama Allah, ya Allah, bukannya setiap anak itu pasti punya ayah dan ibu? Kecuali nabi Adam dan Isa? Allah yang Maha Tahu menjawab bahwa bunda dan ayah memproses nanda bukan dalam ikatan pernikahan yang syah dan Allah Ridhoi. Nanda semakin bingung dan akhirnya nanda putuskan untuk diam.

Bunda, nanda malu terus-terusan nanya sama Allah, walaupun Dia selalu menjawab semua pertanyaan nanda tapi nanda mau nanyanya sama bunda aja, pernikahan itu apa sih? Kenapa bunda tidak menikah saja dengan ayah? Kenapa bunda membuat nanda jadi anak haram dan mengapa bunda mengusir nanda dari rahim bunda dan tidak memberi kesempatan nanda hidup di dunia dan berbakti kepada bunda? Hehe,,,maaf ya bunda, nanda bawel banget... nanti saja, nanda tanyakan bunda kalau kita ketemu

Oh ya Bunda, suatu hari malaikat pernah mengajak jalan-jalan nanda ke tempat yang katanya bernama neraka. Tempat itu sangat menyeramkan dan sangat jauh berbeda dengan tempat tinggal nanda di syurga. Di situ banyak orang yang dibakar pake api lho bunda...minumnya juga pake nanah dan makannya buah-buahan aneh, banyak durinya...yang paling parah, ada perempuan yang ditusuk dan dibakar kaya sate gitu, serem banget deh bunda.

Lagi ngeri-ngerinya, tiba-tiba malaikat bilang sama nanda, Nak, kalau bunda dan ayahmu tidak bertaubat kelak di situlah tempatnya...di situlah orang yang berzina akan tinggal dan disiksa selamanya. Seketika itu nanda menangis dan berteriak-teriak memohon agar bunda dan ayah jangan dimasukkan ke situ.... nanda sayang bunda... nanda kangen dan ingin bertemu bunda... nanda ingin merasakan lembutnya belaian tangan bunda dan nanda ingin kita tinggal bersama di syurga... nanda takut, bunda dan ayah kesakitan seperti orang-orang itu...

Lalu, dengan lembut malaikat berkata... nak,kata Allah kalau kamu sayang, mau bertemu dan ingin ayah bundamu tinggal di syurga bersamamu, tulislah surat untuk mereka... sampaikan berita baik bahwa kamu tinggal di syurga dan ingin mereka ikut, ajaklah mereka bertaubat dan sampaikan juga kabar buruk, bahwa jika mereka tidak bertaubat mereka akan disiksa di neraka seperti orang-orang itu.

Saat mendengar itu, segera saja nanda menulis surat ini untuk bunda, menurut nanda Allah itu baik banget bunda.... Allah akan memaafkan semua kesalahan makhluk Nya asal mereka mau bertaubat nasuha... bunda taubat ya? Ajak ayah juga, nanti biar kita bisa kumpul bareng di sini... nanti nanda jemput bunda dan ayah di padang Mahsyar deh... nanda janji mau bawain minuman dan payung buat ayah dan bunda, soalnya kata Allah di sana panas banget bunda... antriannya juga panjang, semua orang sejak jaman nabi Adam kumpul disitu... tapi bunda jangan khawatir, Allah janji, walaupun rame kalo bunda dan ayah benar-benar bertaubat dan jadi orang yang baik, pasti nanda bisa ketemu kalian.

Bunda, kasih kesempatan buat nanda ya.... biar nanda bisa merasakan nikmatnya bertemu dan berbakti kepada orang tua, nanda juga mohon banget sama bunda...jangan sampai adik-adik nanda mengalami nasib yang sama dengan nanda, biarlah nanda saja yang merasakan sakitnya ketersia-siaan itu. Tolong ya bunda, kasih adik-adik kesempatan untuk hidup di dunia menemani dan merawat bunda saat bunda tua kelak.

Sudah dulu ya bunda... nanda mau main-main dulu di syurga.... nanda tunggu kedatangan ayah dan bunda di sini... nanda sayang banget sama bunda....muach!
---------------------------------------------

DILEMA CINTA

Oleh: M.Yusuf Putra Sinar Tapango




“Kriiing” suara telepon genggam segera membuyarkan lamunanku. Aku segera meraih ponsel yang terletak di atas meja tak jauh dari tempatku berdiri, di samping jendela kamarku.
”Halo, assalamu alaikum.” Terdengar suara Cindy kekasihku yang sudah tidak asing lagi.
”Iya, halo, walaikum salam sayang. Kamu lagi ngapain?” Jawabku dengan nada pelan, walau sebenarnya aku sangat gugup ingin mendengar kabar tentang pria itu.
”Kak, besok jam 9 pagi kita ketemu di tempat biasa ya. Udah ya kak, Cindy dah mau bobo nih. Assalamu alaikum.” Belum sempat kujawab tapi suara Cindy telah menghilang. ” Ada apa ya?”  Tanyaku dalam hati.
                                                                                         ***
            Kulangkahkan kakiku menapaki trotoar taman Boulevard, tempat di mana aku dan Cindy janjian hari ini. Ehm..taman ini telah jadi saksi bisu cerita cintaku bersama Cindy beberapa bulan ini. Akankah semua berakhir sampai di sini?. Segera kubuang jauh-jauh pikiran itu. Kulihat Cindy sudah duduk di bangkui panjang yang biasa kami gunakan untuk menghabiskan waktu menikmati indahnya taman. Dengan berlari kecil aku segera menghampirinya.
”Pagi sayang.” Kuulurkan tangan dan segera mencium keningnya.
”Pagi kak,” Jawabnya datar. Tidak seperti biasanya, oh my God tatapan matanya kosong, di mana tatapan itu? Mata indah dengan tatapan yang penuh cinta. Sebuah tatapan yang selama ini menyejukkan hatiku kini tak lagi kutemukan.
”Kak, kok melamun?” Tegur Cindy dan segera membuyarkan sejenak lamunanku.
”Eh, iya nggak kok.” Jawabku sekenanya.
”Kak besok Ardi datang. Cindy harus bagaimana kak? Aku tidak sanggup untuk berpisah dengan kak Rendy!”. Kulihat mata Cindy berkaca-kaca. Sejenak aku terdiam. Kutatap wajahnya yang sendu. Bibirku terkunci. Pikiranku kalut antara percaya dan tidak apa yang barusan aku dengar. Akankah cintaku berakhir begini, dada ini seperti terguncang, bingung tapi tak tahu harus berbuat apa.
Kupalingkan wajahku melihat burung-burung yang sedang bertengger di atas pohon tepat di depan kami. Burung-burung itu tak berkicau seperti hari-hari sebelumnya. Mereka seperti larut dalam kesedihan yang kami rasakan. Aku menghela nafas yang panjang,  berusaha menguasai diri dan pikiranku. Dengan nada suara yang sedikit bergetar kucoba menenangkannya.
”Tenang sayang, kakak yakin semua ini akan kita lalui bersama. Percayalah kalau memang ditakdirkan untuk hidup bersama, pasti kita akan terus bersama, sampai kapan pun. Namun harus disadari jika cinta memang tidak harus memiliki.” Kataku berusaha untuk menetralisir keadaan,  mencoba menghibur Cindy. Jauh di  lubuk hatiku sangat pedih dan sangat sulit menerima kenyataan ini. Kusandarkan ia di dadaku. Kubelai rambutnya. Cindy memeluk erat tubuhku. Kristal bening makin menguap di kelopak matanya.
”Tapi Kak! sebelum ia kesini menyusulku Ardi sudah melamar pada kedua orang tuaku. Sekarang kami sudah resmi bertunangan.” Suara Cindy lirih dalam pelukku. Mendengar semua itu seolah kurasakan sesuatu menggerogoti jiwaku. Hatiku sakit, marah, sedih, semua rasa itu bercampur menjadi satu. Tubuh Cindy kupeluk erat. Seluruh tubuhku terasa bergetar hebat. Tak terasa butir-butir air mataku menetes perlahan dari kedua mataku. Tangan kami saling menggenggam. Kami berdua terdiam. Hanya air mata yang terus mengalir. Matahari pagi itu perlahan beranjak naik memancarkan teriknya. Selang beberapa saat, kami memutuskan untuk pulang.


                                                                                               ***
            Kuhempaskan tubuhku di tempat tidur yang selama ini hampir 3 tahun menemani hariku-hariku di kota sakura ini. Kuraih bingkai foto yang kutaruh di atas meja samping tempat tidurku. Ya., foto kami berdua saat kami berlibur musim dingin di Tokyo. Kutatap dalam-dalam wajah Cindy. Ia adalah gadis yang telah memberi warna dalam hari-hariku. Gadis yang begitu aku cintai. Gadis yang telah membuat aku punya harapan untuk meraih masa depanku yang lebih baik. Akankah aku kehilangan dia?. Apakah ending dari kisah cinta kami harus berakhir seperti ini?. Suara petir menggelegar menyadarkan aku dari lamunanku.
Aku beranjak dari tempat tidurku menuju ke jendela kamar. Kulihat awan hitam berarak di langit. Sepertinya hujan lebat akan segera turun. Selang beberapa saat kemudian hujan turun. Kutatap rinai hujan itu. Ehm..mataku segera tertuju pada bunga anggrek di luar jendela kamar. Rintik-rintik air hujan membasahinya. Aku menghela nafas yang panjang. Kutatap bunga itu. Bunga anggrek itu pemberian Cindy. Sengaja kuletakkan di samping jendela kamar, agar saat kubangun di pagi hari membuka jendela, aku langsung melihat anggrek itu. Bunga itu selalu kujaga, kurawat dengan baik. Tapi hari ini sama sekali aku belum sempat menyentuhnya. Anggrek itu seolah ikut larut dalam nuansa hatiku yang sedang kalut.
            Hujan belum reda. Aku masih terpaku berdiri di samping jendela kamar. Larut dalam lamunan dan kesedihan yang menghentak-hengtak rasaku. Cindy, di kota sakura inilah saat mata kami beradu. Aku pun jatuh cinta. Gadis cantik berdarah Belanda-Sumatra. Matanya indah. Sikapnya yang manja. Semua itu membuaiku dan terjebak dalam cintanya. Tapi besok Ardi akan datang dari Indonesia. Pria yang kini telah resmi menjadi calon suami Cindy. Teman satu kampus saat ia masih kuliah bersama di Bandung sementara Cindy melanjutkan kembali kuliah di Jepang untuk meraih gelar Magisternya. Ardi, ia kekasih Cindy sebelum bertemu denganku. Pria itu pastilah jauh lebih mengenal keluarga Cindy dibandingkan denganku, meski keluarga Cindy pernah memberiku kesempatan untuk melamar Cindy.
Seandainya saja mamaku saat itu mau mengerti dan tidak egois. Mungkin aku telah lebih dulu melamar Cindy. Sekarang aku sendiri bingung siapa yang salah?.Apakah aku, karena tidak mampu meyakinkan mama bahwa Cindy adalah yang terbaik?. Ataukah Cindy yang baru memberitahu, kalau ternyata ia sudah menjadi kekasih Ardi setelah aku benar-benar mencintai dan menyayanginya?. Mengapa semua ini harus terjadi? Kini apa yang harus  kulakukan?. Semua pertanyaan-pertanyaan ini menari-nari di alam khayal dan menghantui pikiranku.
            Dalam keterpakuanku, entah dari mana datangnya diantara rinai hujan aku seperti melihat sosok Cindy. Ia berdiri dengan berurai air mata tanpa senyuman melambaikan tangannya padaku. Ups.., tiba-tiba terdengar suara dering message dari handpone,  membuatku tersentak. Segera kuambil handphone dari saku celanaku jeansku yang tergantung di dinding. ”Kak, nanti malam Cindy minta dianterin ke apartemen Om Gunawan jam 7 malam ya.,  mungkin ini saat terakhir bisa berdua ama Kak Rendy.” Begitulah pesan singkatnya. Aku segera kembali ke jendela kamar dan mencari-cari sosok Cindy yang barusan  kulihat di luar sana. Tapi  tak ada siapapun. Pasti itu hanyalah ilusinasi, pikirku.
                                                                                             ***
            Jam 18.30 waktu Jepang aku berangkat dari apartemenku menuju stasiun kereta. Malam itu aku akan menjemput Cindy. Harus menempuh jarak sekitar 15 menit dari stasiun Toyoda Chou tempat tinggalku menuju ke stasiun tempat Cindy di daerah Shizuoka. Aku sudah bertekad seandainya ini adalah yang terakhir, akan kubuktikan rasa tanggung jawab untuk selalu menjaganya. Begitulah amanah Ibunya waktu itu. Mungkin malam ini adalah malam terakhir aku bisa berada di samping Cindy dan menatap mata indahnya. Jam 18.50 aku tiba di stasiun Shizuoka. Cindy sudah menungguku di dalam stasiun.
Kami segera menumpangi kereta menuju tempat tinggal Om Gunawan di daerah Nagoya. Kami sengaja menumpangi kereta Shinkanzen, agar bisa cepat tiba meskipun tiketnya sangat mahal untuk ukuran kami sebagai orang asing. Malam itu penumpang kereta sepi. Sepanjang perjalanan, Cindy hanya terus menangis dan menangis. Seolah kami benar-benar akan berpisah dan tidak akan pernah bisa bertemu lagi. Aku pun hanya bisa terdiam, memeluk erat tubuhnya, sementara air hangat pun membasahi pipiku. Rasa cinta memang terkadang membuat kita tertawa bahagia, terkadang membuat kita bersedih, inilah rasa yang sedang aku rasakan.
 Kesedihan yang menusuk sukma seolah-olah membuatku menjadi laki-laki yang lemah. Tapi apakah aku salah jika menangis karena semua ini. Tidak, aku tidak salah, inilah yang kunamakan cinta sejati. Seorang pria menitikkan air mata adalah simbol dalamnya rasa yang terpatri di dalam jiwanya. Tidak lama kemudian kami tiba di stasiun kereta Nagoya, lalu segera menemui Om Gunawan yang sudah menunggu. Kami hanya sempat bercakap-cakap sebentar, lalu pamit pulang karena malam sudah larut. Cindy akhirnya menginap di apartemen Om Gunawan, karena besok pagi ia harus menjemput Ardi di bandara Nagoya.
            Malam itu mataku tak dapat kupejamkan, rasa kantuk pun tak kunjung datang. Aku sangat gelisah. Kunyalakan TV, tapi tak ada satupun acara  yang menarik malam itu. Segera terlintas satu persatu memori yang telah tercipta diantara aku dan Cindy. Masih sangat segar dalam ingatanku saat kami pernah berjanji untuk saling memiliki, dan membangun bahtera rumah tangga yang bahagia. Sore kala itu kami terlibat pembicaraan yang hangat;
 ”Sayang, kakak pengen setelah menikah nanti punya banyak anak ya, kan seru tuh! rumah kita jadi rame” candaku saat itu sambil mencubit pipinya.
”Idih ogah ah kak, kalo banyak-banyak ntar Cindy kerepotan ngelahirinnya. Cukup 2 anak aja yah.” Jawab Cindy sambil balas mencubitku dengan manjanya.
            ”Kalo gitu, anaknya cewek dulu ya, baru cowok.” Candaku lagi.
”Nggak boleh harus cowok dulu kakak sayangku, biar nanti dia bisa menjaga dan melindungi adiknya.” Kata Cindy dengan mimik wajah yang dibuat lucu.
”Iya deh, pokoknya mau cowok maupun cewek sama aja sayang. Tergantung pemberian Allah SWT, yang penting kita tetap bersama dan bahagia. Iya gak?” kataku sambil mencium keningnya lembut, kubelai rambutnya yang panjang.
Begitu bahagianya kala itu, seolah semua itu benar-benar akan terjadi kelak. Tapi saat ini, aku benar-benar merasa lemah dan tak berdaya. Seolah terjatuh kedalam jurang yang sangat terjal dan dalam. Seperti berada di tengah lautan yang kehilangan arah. Dalam kegalauan hatiku, akhirnya kuterlelap dalam lelah, bercengkrama dengan kesunyian malam itu.
                                                                                            ***
            Keesokan harinya, aku melakukan aktivitas seperti biasa. Tepat saat jam istirahat siang dan sedang makan siang bersama teman-teman kerja, ponselku berbunyi. Ternyata ada SMS dari Cindy, tiba-tiba perasaanku menjadi tidak karuan.
”Kakak sayang, Ardi sudah datang. Tapi sejak tiba hingga sekarang dia selalu mempertanyakan tentang hubungan kita. Pertanyaannya macam-macam dari A sampai Z. Kamu sudah diapain aja sama dia? Sudah sejauh mana hubungan kamu sama dia selama ini? Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan dia Kak! Cindy hanya bisa menangis dan menangis. Kak apa yang harus aku lakukan. Kalo begini terus Cindy nggak kuat kak, lebih baik aku mati saja!”
Dadaku terasa sesak membaca SMS Cindy, ya Allah kuatkanlah Cindy. Berilah ia kesabaran dan kekuatan menghadapi semua cobaan ini. Aku hanya bisa berdoa dalam hati. Jujur dalam hati kecilku, sangat merasa bersalah pada Ardi. Karena kehadiranku, sehingga hubungan mereka jadi seperti ini. Aku pun sangat merasa bersalah pada kedua orang tua Cindy, karena kehadiranku malah menghambat pendidikannya di sini. Bukannya sekolah malah pacaran! Aku seperti menghakimi diri sendiri. ”Tapi salahkah semua ini? Salahkah Cindy bila mencintaiku  dan menganggapku adalah pilihan hatinya?” Bathinku. Tetapi tetap saja, aku selalu menempatkan diri sebagai biang masalah, dan penyebab semuanya. Hatiku kalut. Sedih menyelimutiku. Ponselku tiba-tiba berbunyi, ada panggilan masuk, oh ternyata Om Gunawan.
”Halo Rendy ini Om Gunawan. Bisa nggak hari sabtu datang ke apartemen Om, Ardi sudah datang dan dia mau ketemu kamu.” kata Om Gunawan dengan nada suara sedikit berat.
”Oh iya Om, saya akan kesana besok jam 9 pagi ” jawabku.
            Hari sabtu pagi, dengan menumpangi kereta expres aku menuju ke apartemen  Om Gunawan. Sedikit telat, jam 9 lewat10 menit aku tiba di Apartemennya. Dengan ramah Om Gunawan dan istrinya menyambutku pagi itu. Tapi aku tak melihat Cindy dan Ardi di sana. Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati, di mana mereka.
”Oh iya Rendy, tunangannya Cindy si Ardi sudah tiba dari Indonesia kemarin. Ardi ingin bertemu sama kamu. Saya memang sudah menjelaskan tentang hubunganmu dengan Cindy, tapi sepertinya Ardi ingin mendengar lansung dan bertemu kamu. Saya harap semoga masalah ini, dapat kita selesaikan secara kekeluargaan dan baik-baik.” Om Gunawan memulai pembicaraan, setelah mempersilahkan duduk dan menikmati segelas teh hangat pagi itu.
” Iya Om, saya juga berharap demikian.” Ujarku.
            Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Aku mendengar suara Cindy memanggil Om Gunawan dari luar.
”Nah, sepertinya Cindy sudah datang Bang!” Kata istri Om Gunawan. Ia segera berdiri dari tempat duduknya, untuk membuka pintu. Jantungku berdegup kencang. ”Ya Allah berikanlah aku kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi semua ini.” Doaku dalam hati. Tak lama kemudian Cindy muncul di balik pintu, ada seorang pria bersamanya. Itu pasti Ardi, gumamku dalam hati. Jantungku semakin berdegup kencang.
Kulihat wajah Ardi penuh emosi menatapku. Aku tetap mencoba untuk bersikap tenang. Entahlah aku selalu diliputi rasa bersalah. Om Gunawan segera memperkenalkan kami. Kujabat tangannya dan menyebutkan nama, ia pun menyebutkan namanya dengan nada yang berat. Sorot matanya tajam penuh emosi, aku berpaling menatap Cindy. Tatapan mata Cindy kosong, matanya sembab, pasti ia habis menangis. Kasihan sekali kamu sayang, kata hatiku menyapanya. Kami berlima segera masuk ke ruang dalam apartemen, duduk di atas karpet lantai. Sejenak hening. Semua diam. Suasana ruangan itu tiba-tiba mendung, padahal di luar matahari bersinar dengan teriknya. Aku menghela nafas panjang. Kemudian Om Gunawan segera angkat bicara;
”Ok, semuanya mungkin sudah tahu apa tujuan kita berkumpul di sini.
Ardi mungkin ingin menanyakan sesuatu pada Rendy. Tetapi di sini Rendy juga punya
hak untuk tidak menjawab, jika ada pertanyaan Ardi yang menurut Rendy itu kurang
pantas ditanyakan! Silahkan Ardi jika ada yang mau kamu tanyakan pada Rendy.” Kata
Om Gunawan.
”Saya ingin menanyakan sejauh mana hubungan kamu sama Cindy?” Ardi bertanya padaku dengan suara berat.
”Sebelumnya saya mau minta maaf pada saudara Ardi, karena kehadiran saya diantara kalian berdua telah membuat hubungan kalian seperti ini. Tetapi jujur sebelumnya, saya tidak tahu kalau ternyata Cindy sudah punya pacar. Saya juga sudah menganggap Cindy seperti adik saya sendiri.”
”Terus hubungan kalian?” tanya Ardi penuh emosi
”Ya, jujur kami memang pacaran. Tapi maaf, bukan berarti hubungan kami tidak diketahui oleh keluarga Cindy. Bahkan mamanya Cindy pernah berpesan agar menjaga dia. Tapi saya yakin saudara Ardilah yang lebih pantas bersama Cindy, bukan saya.”
”Terus, apa saja yang telah pernah kalian lakukan? Kalian pernah berciuman?
Tanya Ardi penuh emosi dan kecemburuan, sangat kekanak kanakan pikirku. Tapi bagiku ini adalah hal yang wajar, mungkin jika berada di posisinya aku juga akan melakukan hal yang sama.
”Sudah, sudah kalian tidak usah bertengkar!!”. Teriak Cindy tak urung lagi  mengeluarkan air matanya.
”Kenapa sih kamu selalu membela dia? Kalau memang kamu memilih dia, oke saya akan pulang ke Indonesia!”
Mendengar semua itu terucap dari bibir Ardi, semakin membuatku merasa bersalah. Aku melihat begitu besar cinta Ardi terhadap Cindy, bahkan mungkin melebihi besarnya cintaku. Tiba-tiba aku merasa kerdil dengan semua perasaan-perasaan yang datang, membuat aku diam seribu basa.
”Sekarang begini saja, saya di sini duduk sebagai keluarga Cindy! Dan kamu Cindy, sekarang kamu harus memilih diantara mereka berdua. Siapa yang kamu anggap terbaik dan bisa membawa masa depanmu lebih baik! Ardi dan Rendy saya harap kalian berdua harus menerima apapun keputusan Cindy dengan lapang dada.”
Aku dan Ardi hanya bisa mengiyakan pernyataan Om Gunawan. Kami semua hanya terdiam membisu. Cindy hanya bisa menangis dan menangis. Hatiku perih dengan situasi ini.
”Baiklah aku akan memilih, tapi aku ada satu permintaan, siapapun yang aku pilih nantinya jangan pernah lagi menanyakan tentang masa lalu diantara kita semua,”
Melihat begitu besar pengorbanan cinta Ardi terhadap Cindy, dan mendengar ucapan Om Gunawan tentang masa depan, tentunya Ardi jauh lebih baik dibanding diriku. Pun Ardi telah resmi menjadi tunangan Cindy. Aku berharap agar ia tidak memilihku. Kami berdua setuju atas syarat yang diajukannya. Kemudian Cindy memandangi kami silih berganti lalu...
”Aku memilih Ardi...”
 Ardi trerlihat begitu gembira dengan ucapan Cindy barusan, tapi tidak sampai disitu, dengan menahan air mata yang terus mengalir, Cindy pun melanjutkan ucapannya.
”Tapi hatiku memilih Kak Rendy!”
Aku tersentak kaget dengan apa yang barusan aku dengar. Rasanya aku tidak percaya dengan semua ini. Aku bukan senang dengan apa yang baru saja aku dengar, tapi hatiku sangat sakit dan merasa tak punya harga diri. Betapakan aku ibarat sebuah barang yang dipilih-pilih oleh pembeli, perihnya hatiku tak dapat lagi kulukiskan dengan kata. Om Gunawan pun ikut tersentak,  mukanya memerah, menahan  emosi tentunya.
”Cindy! Apa-apaan kamu! Kamu jangan mempermainkan perasaan orang seperti ini! Kamu ini perempuan, seandainya kamu laki-laki mungkin kamu bisa menikahi keduanya!!”
Wajah Om Gunawan semakin memerah menahan amarahnya. Aku semakin larut dalam kegalauan hatiku. Kulihat Ardi begitu terpukul dengan ucapan Cindy. Aku bisa merasakan begitu pedih hatinya menerima kenyataan seperti ini. Sementara Cindy hanya  menangis dan menangis. Om Gunawan lalu mengajak Cindy masuk ke ruang sebelah. Tinggallah aku, Ardi dan Istri Om Gunawan. Kami bertiga terdiam. Tak lama kemudian pintu ruang sebelah terbuka. Om Gunawan mengajak Ardi untuk masuk ke dalam. Entah apa yang dibicarakan mereka bertiga di dalam ruangan itu.
”Sabar yah Rendy, mengalah bukan berarti kalah. Tante yakin kamu pasti tahu jika cinta itu tak harus saling memiliki.”
Istri Om Gunawan berusaha menghiburku. Aku hanya bisa terdiam menatap lantai ruangan itu dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian Ardi keluar, dan giliran aku dipanggil masuk ke ruangan sebelah.
”Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan pada Cindy.” Ujar Om Gunawan.
”Sayang, walau aku sangat mencintai kamu melebihi dari segalanya, tapi aku rela dan ikhlas melepaskanmu untuk Ardi.”
Cindy menangis, menatap tajam kepadaku.
”Terimalah Ardi kembali, bagaimanapun dia sudah menjadi tunangan kamu. Suatu saat jika kamu memang tidak bahagia bersama dia, aku akan selalu membuka pintu hati aku untuk kamu sayang.”
Cindy semakin tidak bisa membendung air matanya. Aku pun mulai merasakan mataku berkaca-kaca. Setelah itu aku kembali ke luar dan duduk di tempat semula.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan muncullah Om Gunawan bersama Cindy.
”Cindy sudah menentukan pilihannya, dan saya harap kalian berdua bisa menerima tanpa ada rasa dendam. Saya juga berharap setelah ini, masalah saya anggap sudah selesai. Cindy sekarang katakan, siapa yang kamu pilih!”
”Aku memilih Ardi!”
Tangan Cindy mengelus rambut Ardi yang berada di sebelahnya. Terlihat Ardi sangat senang dan berucap syukur mendengar ucapan Cindy. Tiba-tiba seluruh tubuhku terasa lemah dan tak berdaya. Aku seolah dilemparkan dari ketinggian dan sangat tinggi. Walau hatiku tak berharap dipilih tetapi hatiku begitu hancur berkeping-keping. Semua impian dan harapan yang selama ini aku bangun hancur lebur tak bersisa. “Ya Allah kuatkanlah aku” Doaku. Aku berusaha agar air mataku tidak meluap, kemudian dengan terbata-bata aku mulai bicara;
“Baiklah saya ikhlas, dan saya minta maaf baik pada keluarga Cindy maupun saudara Ardi atas semua ini. Cindy, kakak harap apapun yang pernah ada diantara kita, anggap saja itu tidak pernah ada. Saudara Ardi saya mohon tolong jaga Cindy baik-baik, karena saya sangat mencintainya seperti saudara Ardi pun mencintai dia.”
”Rendy kami juga ingin berterima kasih karena selama ini saya tahu mungkin Rendy telah banyak membantu dan menjaga Cindy. Maafkan atas semua ini.”
”Sama-sama Om Gunawan, kalau begitu saya pamit untuk pulang sekarang.”
Aku sudah tidak sanggup berlama-lama dalam suasana seperti ini. Air mataku rasanya akan segera tumpah. Om Gunawan lalu mengantarku ke stasiun kereta. Setelah turun dari mobil dan pamit pada Om Gunawan, aku segera berlari ke tempat sepi dan menumpahkan seluruh air mataku. Aku berlutut di tanah. Rasanya aku tak kuasa menerima kenyataan hidupku.
        Hatiku perih, semua impian dan harapan-harapanku yang telah kubangun tinggallah kenangan. Dia yang aku bangga-banggakan pada keluargaku ternyata telah menghancurkan semuanya. Entah apa yang akan kujelaskan nantinya pada mamaku. Ketika mamaku sendiri sudah mulai bisa menerima kehadiran Cindy tapi semua sudah terlambat. Entahlah seandainya aku tidak ingat dosa dan keluargaku rasanya aku ingin mati saja. Aku mendongak kelangit. Bangkit dari kehancuran dan kesedihanku. ”Ya Allah semua ini adalah rencanamu, bila Cindy memang bukan yang terbaik untukku aku ikhlas! Berikanlah aku kekuatan untuk menerima semua cobaan ini.” Doaku dalam tangisku. Dengan gontai kulangkahkan kakiku untuk pulang. Aku yakin esok pasti akan datang dan saat itulah aku harus menyonsongnya. Berdamai dengan masa lalu dan aku tidak boleh takut akan hari esok. Itulah tekadku.





                                                                                         THE END
Oleh: M.Yusuf Putra Sinar Tapango


“Kriiing” suara telepon genggam segera membuyarkan lamunanku. Aku segera meraih ponsel yang terletak di atas meja tak jauh dari tempatku berdiri, di samping jendela kamarku.
”Halo, assalamu alaikum.” Terdengar suara Cindy kekasihku yang sudah tidak asing lagi.
”Iya, halo, walaikum salam sayang. Kamu lagi ngapain?” Jawabku dengan nada pelan, walau sebenarnya aku sangat gugup ingin mendengar kabar tentang pria itu.
”Kak, besok jam 9 pagi kita ketemu di tempat biasa ya. Udah ya kak, Cindy dah mau bobo nih. Assalamu alaikum.” Belum sempat kujawab tapi suara Cindy telah menghilang. ” Ada apa ya?”  Tanyaku dalam hati.
                                                                              ***
            Kulangkahkan kakiku menapaki trotoar taman Boulevard, tempat di mana aku dan Cindy janjian hari ini. Ehm..taman ini telah jadi saksi bisu cerita cintaku bersama Cindy beberapa bulan ini. Akankah semua berakhir sampai di sini?. Segera kubuang jauh-jauh pikiran itu. Kulihat Cindy sudah duduk di bangkui panjang yang biasa kami gunakan untuk menghabiskan waktu menikmati indahnya taman. Dengan berlari kecil aku segera menghampirinya.
”Pagi sayang.” Kuulurkan tangan dan segera mencium keningnya.
”Pagi kak,” Jawabnya datar. Tidak seperti biasanya, oh my God tatapan matanya kosong, di mana tatapan itu? Mata indah dengan tatapan yang penuh cinta. Sebuah tatapan yang selama ini menyejukkan hatiku kini tak lagi kutemukan.
”Kak, kok melamun?” Tegur Cindy dan segera membuyarkan sejenak lamunanku.
”Eh, iya nggak kok.” Jawabku sekenanya.
”Kak besok Ardi datang. Cindy harus bagaimana kak? Aku tidak sanggup untuk berpisah dengan kak Rendy!”. Kulihat mata Cindy berkaca-kaca. Sejenak aku terdiam. Kutatap wajahnya yang sendu. Bibirku terkunci. Pikiranku kalut antara percaya dan tidak apa yang barusan aku dengar. Akankah cintaku berakhir begini, dada ini seperti terguncang, bingung tapi tak tahu harus berbuat apa.
Kupalingkan wajahku melihat burung-burung yang sedang bertengger di atas pohon tepat di depan kami. Burung-burung itu tak berkicau seperti hari-hari sebelumnya. Mereka seperti larut dalam kesedihan yang kami rasakan. Aku menghela nafas yang panjang,  berusaha menguasai diri dan pikiranku. Dengan nada suara yang sedikit bergetar kucoba menenangkannya.
”Tenang sayang, kakak yakin semua ini akan kita lalui bersama. Percayalah kalau memang ditakdirkan untuk hidup bersama, pasti kita akan terus bersama, sampai kapan pun. Namun harus disadari jika cinta memang tidak harus memiliki.” Kataku berusaha untuk menetralisir keadaan,  mencoba menghibur Cindy. Jauh di  lubuk hatiku sangat pedih dan sangat sulit menerima kenyataan ini. Kusandarkan ia di dadaku. Kubelai rambutnya. Cindy memeluk erat tubuhku. Kristal bening makin menguap di kelopak matanya.
”Tapi Kak! sebelum ia kesini menyusulku Ardi sudah melamar pada kedua orang tuaku. Sekarang kami sudah resmi bertunangan.” Suara Cindy lirih dalam pelukku. Mendengar semua itu seolah kurasakan sesuatu menggerogoti jiwaku. Hatiku sakit, marah, sedih, semua rasa itu bercampur menjadi satu. Tubuh Cindy kupeluk erat. Seluruh tubuhku terasa bergetar hebat. Tak terasa butir-butir air mataku menetes perlahan dari kedua mataku. Tangan kami saling menggenggam. Kami berdua terdiam. Hanya air mata yang terus mengalir. Matahari pagi itu perlahan beranjak naik memancarkan teriknya. Selang beberapa saat, kami memutuskan untuk pulang.

                                                                            ***
            Kuhempaskan tubuhku di tempat tidur yang selama ini hampir 3 tahun menemani hariku-hariku di kota sakura ini. Kuraih bingkai foto yang kutaruh di atas meja samping tempat tidurku. Ya., foto kami berdua saat kami berlibur musim dingin di Tokyo. Kutatap dalam-dalam wajah Cindy. Ia adalah gadis yang telah memberi warna dalam hari-hariku. Gadis yang begitu aku cintai. Gadis yang telah membuat aku punya harapan untuk meraih masa depanku yang lebih baik. Akankah aku kehilangan dia?. Apakah ending dari kisah cinta kami harus berakhir seperti ini?. Suara petir menggelegar menyadarkan aku dari lamunanku.
Aku beranjak dari tempat tidurku menuju ke jendela kamar. Kulihat awan hitam berarak di langit. Sepertinya hujan lebat akan segera turun. Selang beberapa saat kemudian hujan turun. Kutatap rinai hujan itu. Ehm..mataku segera tertuju pada bunga anggrek di luar jendela kamar. Rintik-rintik air hujan membasahinya. Aku menghela nafas yang panjang. Kutatap bunga itu. Bunga anggrek itu pemberian Cindy. Sengaja kuletakkan di samping jendela kamar, agar saat kubangun di pagi hari membuka jendela, aku langsung melihat anggrek itu. Bunga itu selalu kujaga, kurawat dengan baik. Tapi hari ini sama sekali aku belum sempat menyentuhnya. Anggrek itu seolah ikut larut dalam nuansa hatiku yang sedang kalut.

            Hujan belum reda. Aku masih terpaku berdiri di samping jendela kamar. Larut dalam lamunan dan kesedihan yang menghentak-hengtak rasaku. Cindy, di kota sakura inilah saat mata kami beradu. Aku pun jatuh cinta. Gadis cantik berdarah Belanda-Sumatra. Matanya indah. Sikapnya yang manja. Semua itu membuaiku dan terjebak dalam cintanya. Tapi besok Ardi akan datang dari Indonesia. Pria yang kini telah resmi menjadi calon suami Cindy. Teman satu kampus saat ia masih kuliah bersama di Bandung sementara Cindy melanjutkan kembali kuliah di Jepang untuk meraih gelar Magisternya. Ardi, ia kekasih Cindy sebelum bertemu denganku. Pria itu pastilah jauh lebih mengenal keluarga Cindy dibandingkan denganku, meski keluarga Cindy pernah memberiku kesempatan untuk melamar Cindy.

            Seandainya saja mamaku saat itu mau mengerti dan tidak egois. Mungkin aku telah lebih dulu melamar Cindy. Sekarang aku sendiri bingung siapa yang salah?.Apakah aku, karena tidak mampu meyakinkan mama bahwa Cindy adalah yang terbaik?. Ataukah Cindy yang baru memberitahu, kalau ternyata ia sudah menjadi kekasih Ardi setelah aku benar-benar mencintai dan menyayanginya?. Mengapa semua ini harus terjadi? Kini apa yang harus  kulakukan?. Semua pertanyaan-pertanyaan ini menari-nari di alam khayal dan menghantui pikiranku.

            Dalam keterpakuanku, entah dari mana datangnya diantara rinai hujan aku seperti melihat sosok Cindy. Ia berdiri dengan berurai air mata tanpa senyuman melambaikan tangannya padaku. Ups.., tiba-tiba terdengar suara dering message dari handpone,  membuatku tersentak. Segera kuambil handphone dari saku celanaku jeansku yang tergantung di dinding. ”Kak, nanti malam Cindy minta dianterin ke apartemen Om Gunawan jam 7 malam ya.,  mungkin ini saat terakhir bisa berdua ama Kak Rendy.” Begitulah pesan singkatnya. Aku segera kembali ke jendela kamar dan mencari-cari sosok Cindy yang barusan  kulihat di luar sana. Tapi  tak ada siapapun. Pasti itu hanyalah ilusinasi, pikirku.
                                                                                             ***
            Jam 18.30 waktu Jepang aku berangkat dari apartemenku menuju stasiun kereta. Malam itu aku akan menjemput Cindy. Harus menempuh jarak sekitar 15 menit dari stasiun Toyoda Chou tempat tinggalku menuju ke stasiun tempat Cindy di daerah Shizuoka. Aku sudah bertekad seandainya ini adalah yang terakhir, akan kubuktikan rasa tanggung jawab untuk selalu menjaganya. Begitulah amanah Ibunya waktu itu. Mungkin malam ini adalah malam terakhir aku bisa berada di samping Cindy dan menatap mata indahnya. Jam 18.50 aku tiba di stasiun Shizuoka. Cindy sudah menungguku di dalam stasiun.

          Kami segera menumpangi kereta menuju tempat tinggal Om Gunawan di daerah Nagoya. Kami sengaja menumpangi kereta Shinkanzen, agar bisa cepat tiba meskipun tiketnya sangat mahal untuk ukuran kami sebagai orang asing. Malam itu penumpang kereta sepi. Sepanjang perjalanan, Cindy hanya terus menangis dan menangis. Seolah kami benar-benar akan berpisah dan tidak akan pernah bisa bertemu lagi. Aku pun hanya bisa terdiam, memeluk erat tubuhnya, sementara air hangat pun membasahi pipiku. Rasa cinta memang terkadang membuat kita tertawa bahagia, terkadang membuat kita bersedih, inilah rasa yang sedang aku rasakan.

           Kesedihan yang menusuk sukma seolah-olah membuatku menjadi laki-laki yang lemah. Tapi apakah aku salah jika menangis karena semua ini. Tidak, aku tidak salah, inilah yang kunamakan cinta sejati. Seorang pria menitikkan air mata adalah simbol dalamnya rasa yang terpatri di dalam jiwanya. Tidak lama kemudian kami tiba di stasiun kereta Nagoya, lalu segera menemui Om Gunawan yang sudah menunggu. Kami hanya sempat bercakap-cakap sebentar, lalu pamit pulang karena malam sudah larut. Cindy akhirnya menginap di apartemen Om Gunawan, karena besok pagi ia harus menjemput Ardi di bandara Nagoya.

            Malam itu mataku tak dapat kupejamkan, rasa kantuk pun tak kunjung datang. Aku sangat gelisah. Kunyalakan TV, tapi tak ada satupun acara  yang menarik malam itu. Segera terlintas satu persatu memori yang telah tercipta diantara aku dan Cindy. Masih sangat segar dalam ingatanku saat kami pernah berjanji untuk saling memiliki, dan membangun bahtera rumah tangga yang bahagia. Sore kala itu kami terlibat pembicaraan yang hangat;
 ”Sayang, kakak pengen setelah menikah nanti punya banyak anak ya, kan seru tuh! rumah kita jadi rame” candaku saat itu sambil mencubit pipinya.
”Idih ogah ah kak, kalo banyak-banyak ntar Cindy kerepotan ngelahirinnya. Cukup 2 anak aja yah.” Jawab Cindy sambil balas mencubitku dengan manjanya.
”Kalo gitu, anaknya cewek dulu ya, baru cowok.” Candaku lagi.
”Nggak boleh harus cowok dulu kakak sayangku, biar nanti dia bisa menjaga dan melindungi adiknya.” Kata Cindy dengan mimik wajah yang dibuat lucu.
”Iya deh, pokoknya mau cowok maupun cewek sama aja sayang. Tergantung pemberian Allah SWT, yang penting kita tetap bersama dan bahagia. Iya gak?” kataku sambil mencium keningnya lembut, kubelai rambutnya yang panjang.
Begitu bahagianya kala itu, seolah semua itu benar-benar akan terjadi kelak. Tapi saat ini, aku benar-benar merasa lemah dan tak berdaya. Seolah terjatuh kedalam jurang yang sangat terjal dan dalam. Seperti berada di tengah lautan yang kehilangan arah. Dalam kegalauan hatiku, akhirnya kuterlelap dalam lelah, bercengkrama dengan kesunyian malam itu.
                                                                                            ***
            Keesokan harinya, aku melakukan aktivitas seperti biasa. Tepat saat jam istirahat siang dan sedang makan siang bersama teman-teman kerja, ponselku berbunyi. Ternyata ada SMS dari Cindy, tiba-tiba perasaanku menjadi tidak karuan.
”Kakak sayang, Ardi sudah datang. Tapi sejak tiba hingga sekarang dia selalu mempertanyakan tentang hubungan kita. Pertanyaannya macam-macam dari A sampai Z. Kamu sudah diapain aja sama dia? Sudah sejauh mana hubungan kamu sama dia selama ini? Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan dia Kak! Cindy hanya bisa menangis dan menangis. Kak apa yang harus aku lakukan. Kalo begini terus Cindy nggak kuat kak, lebih baik aku mati saja!”
Dadaku terasa sesak membaca SMS Cindy, ya Allah kuatkanlah Cindy. Berilah ia kesabaran dan kekuatan menghadapi semua cobaan ini. Aku hanya bisa berdoa dalam hati. Jujur dalam hati kecilku, sangat merasa bersalah pada Ardi. Karena kehadiranku, sehingga hubungan mereka jadi seperti ini. Aku pun sangat merasa bersalah pada kedua orang tua Cindy, karena kehadiranku malah menghambat pendidikannya di sini. Bukannya sekolah malah pacaran! Aku seperti menghakimi diri sendiri. ”Tapi salahkah semua ini? Salahkah Cindy bila mencintaiku  dan menganggapku adalah pilihan hatinya?” Bathinku. Tetapi tetap saja, aku selalu menempatkan diri sebagai biang masalah, dan penyebab semuanya. Hatiku kalut. Sedih menyelimutiku. Ponselku tiba-tiba berbunyi, ada panggilan masuk, oh ternyata Om Gunawan.
”Halo Rendy ini Om Gunawan. Bisa nggak hari sabtu datang ke apartemen Om, Ardi sudah datang dan dia mau ketemu kamu.” kata Om Gunawan dengan nada suara sedikit berat.
”Oh iya Om, saya akan kesana besok jam 9 pagi ” jawabku.

            Hari sabtu pagi, dengan menumpangi kereta expres aku menuju ke apartemen  Om Gunawan. Sedikit telat, jam 9 lewat10 menit aku tiba di Apartemennya. Dengan ramah Om Gunawan dan istrinya menyambutku pagi itu. Tapi aku tak melihat Cindy dan Ardi di sana. Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati, di mana mereka.
”Oh iya Rendy, tunangannya Cindy si Ardi sudah tiba dari Indonesia kemarin. Ardi ingin bertemu sama kamu. Saya memang sudah menjelaskan tentang hubunganmu dengan Cindy, tapi sepertinya Ardi ingin mendengar lansung dan bertemu kamu. Saya harap semoga masalah ini, dapat kita selesaikan secara kekeluargaan dan baik-baik.” Om Gunawan memulai pembicaraan, setelah mempersilahkan duduk dan menikmati segelas teh hangat pagi itu.
” Iya Om, saya juga berharap demikian.” Ujarku.
            Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Aku mendengar suara Cindy memanggil Om Gunawan dari luar.
”Nah, sepertinya Cindy sudah datang Bang!” Kata istri Om Gunawan. Ia segera berdiri dari tempat duduknya, untuk membuka pintu. Jantungku berdegup kencang. ”Ya Allah berikanlah aku kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi semua ini.” Doaku dalam hati. Tak lama kemudian Cindy muncul di balik pintu, ada seorang pria bersamanya. Itu pasti Ardi, gumamku dalam hati. Jantungku semakin berdegup kencang.
Kulihat wajah Ardi penuh emosi menatapku. Aku tetap mencoba untuk bersikap tenang. Entahlah aku selalu diliputi rasa bersalah. Om Gunawan segera memperkenalkan kami. Kujabat tangannya dan menyebutkan nama, ia pun menyebutkan namanya dengan nada yang berat. Sorot matanya tajam penuh emosi, aku berpaling menatap Cindy. Tatapan mata Cindy kosong, matanya sembab, pasti ia habis menangis. Kasihan sekali kamu sayang, kata hatiku menyapanya. Kami berlima segera masuk ke ruang dalam apartemen, duduk di atas karpet lantai. Sejenak hening. Semua diam. Suasana ruangan itu tiba-tiba mendung, padahal di luar matahari bersinar dengan teriknya. Aku menghela nafas panjang. Kemudian Om Gunawan segera angkat bicara;
”Ok, semuanya mungkin sudah tahu apa tujuan kita berkumpul di sini.
Ardi mungkin ingin menanyakan sesuatu pada Rendy. Tetapi di sini Rendy juga punya
hak untuk tidak menjawab, jika ada pertanyaan Ardi yang menurut Rendy itu kurang
pantas ditanyakan! Silahkan Ardi jika ada yang mau kamu tanyakan pada Rendy.” Kata
Om Gunawan.
”Saya ingin menanyakan sejauh mana hubungan kamu sama Cindy?” Ardi bertanya padaku dengan suara berat.
”Sebelumnya saya mau minta maaf pada saudara Ardi, karena kehadiran saya diantara kalian berdua telah membuat hubungan kalian seperti ini. Tetapi jujur sebelumnya, saya tidak tahu kalau ternyata Cindy sudah punya pacar. Saya juga sudah menganggap Cindy seperti adik saya sendiri.”
”Terus hubungan kalian?” tanya Ardi penuh emosi
”Ya, jujur kami memang pacaran. Tapi maaf, bukan berarti hubungan kami tidak diketahui oleh keluarga Cindy. Bahkan mamanya Cindy pernah berpesan agar menjaga dia. Tapi saya yakin saudara Ardilah yang lebih pantas bersama Cindy, bukan saya.”
”Terus, apa saja yang telah pernah kalian lakukan? Kalian pernah berciuman?
Tanya Ardi penuh emosi dan kecemburuan, sangat kekanak kanakan pikirku. Tapi bagiku ini adalah hal yang wajar, mungkin jika berada di posisinya aku juga akan melakukan hal yang sama.
”Sudah, sudah kalian tidak usah bertengkar!!”. Teriak Cindy tak urung lagi  mengeluarkan air matanya.
”Kenapa sih kamu selalu membela dia? Kalau memang kamu memilih dia, oke saya akan pulang ke Indonesia!”
Mendengar semua itu terucap dari bibir Ardi, semakin membuatku merasa bersalah. Aku melihat begitu besar cinta Ardi terhadap Cindy, bahkan mungkin melebihi besarnya cintaku. Tiba-tiba aku merasa kerdil dengan semua perasaan-perasaan yang datang, membuat aku diam seribu basa.
”Sekarang begini saja, saya di sini duduk sebagai keluarga Cindy! Dan kamu Cindy, sekarang kamu harus memilih diantara mereka berdua. Siapa yang kamu anggap terbaik dan bisa membawa masa depanmu lebih baik! Ardi dan Rendy saya harap kalian berdua harus menerima apapun keputusan Cindy dengan lapang dada.”
Aku dan Ardi hanya bisa mengiyakan pernyataan Om Gunawan. Kami semua hanya terdiam membisu. Cindy hanya bisa menangis dan menangis. Hatiku perih dengan situasi ini.
”Baiklah aku akan memilih, tapi aku ada satu permintaan, siapapun yang aku pilih nantinya jangan pernah lagi menanyakan tentang masa lalu diantara kita semua,”
Melihat begitu besar pengorbanan cinta Ardi terhadap Cindy, dan mendengar ucapan Om Gunawan tentang masa depan, tentunya Ardi jauh lebih baik dibanding diriku. Pun Ardi telah resmi menjadi tunangan Cindy. Aku berharap agar ia tidak memilihku. Kami berdua setuju atas syarat yang diajukannya. Kemudian Cindy memandangi kami silih berganti lalu...
”Aku memilih Ardi...”
 Ardi trerlihat begitu gembira dengan ucapan Cindy barusan, tapi tidak sampai disitu, dengan menahan air mata yang terus mengalir, Cindy pun melanjutkan ucapannya.
”Tapi hatiku memilih Kak Rendy!”
Aku tersentak kaget dengan apa yang barusan aku dengar. Rasanya aku tidak percaya dengan semua ini. Aku bukan senang dengan apa yang baru saja aku dengar, tapi hatiku sangat sakit dan merasa tak punya harga diri. Betapakan aku ibarat sebuah barang yang dipilih-pilih oleh pembeli, perihnya hatiku tak dapat lagi kulukiskan dengan kata. Om Gunawan pun ikut tersentak,  mukanya memerah, menahan  emosi tentunya.
”Cindy! Apa-apaan kamu! Kamu jangan mempermainkan perasaan orang seperti ini! Kamu ini perempuan, seandainya kamu laki-laki mungkin kamu bisa menikahi keduanya!!”
Wajah Om Gunawan semakin memerah menahan amarahnya. Aku semakin larut dalam kegalauan hatiku. Kulihat Ardi begitu terpukul dengan ucapan Cindy. Aku bisa merasakan begitu pedih hatinya menerima kenyataan seperti ini. Sementara Cindy hanya  menangis dan menangis. Om Gunawan lalu mengajak Cindy masuk ke ruang sebelah. Tinggallah aku, Ardi dan Istri Om Gunawan. Kami bertiga terdiam. Tak lama kemudian pintu ruang sebelah terbuka. Om Gunawan mengajak Ardi untuk masuk ke dalam. Entah apa yang dibicarakan mereka bertiga di dalam ruangan itu.
”Sabar yah Rendy, mengalah bukan berarti kalah. Tante yakin kamu pasti tahu jika cinta itu tak harus saling memiliki.”
Istri Om Gunawan berusaha menghiburku. Aku hanya bisa terdiam menatap lantai ruangan itu dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian Ardi keluar, dan giliran aku dipanggil masuk ke ruangan sebelah.
”Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan pada Cindy.” Ujar Om Gunawan.
”Sayang, walau aku sangat mencintai kamu melebihi dari segalanya, tapi aku rela dan ikhlas melepaskanmu untuk Ardi.”
Cindy menangis, menatap tajam kepadaku.
”Terimalah Ardi kembali, bagaimanapun dia sudah menjadi tunangan kamu. Suatu saat jika kamu memang tidak bahagia bersama dia, aku akan selalu membuka pintu hati aku untuk kamu sayang.”
Cindy semakin tidak bisa membendung air matanya. Aku pun mulai merasakan mataku berkaca-kaca. Setelah itu aku kembali ke luar dan duduk di tempat semula.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan muncullah Om Gunawan bersama Cindy.
”Cindy sudah menentukan pilihannya, dan saya harap kalian berdua bisa menerima tanpa ada rasa dendam. Saya juga berharap setelah ini, masalah saya anggap sudah selesai. Cindy sekarang katakan, siapa yang kamu pilih!”
”Aku memilih Ardi!”
Tangan Cindy mengelus rambut Ardi yang berada di sebelahnya. Terlihat Ardi sangat senang dan berucap syukur mendengar ucapan Cindy. Tiba-tiba seluruh tubuhku terasa lemah dan tak berdaya. Aku seolah dilemparkan dari ketinggian dan sangat tinggi. Walau hatiku tak berharap dipilih tetapi hatiku begitu hancur berkeping-keping. Semua impian dan harapan yang selama ini aku bangun hancur lebur tak bersisa. “Ya Allah kuatkanlah aku” Doaku. Aku berusaha agar air mataku tidak meluap, kemudian dengan terbata-bata aku mulai bicara;
“Baiklah saya ikhlas, dan saya minta maaf baik pada keluarga Cindy maupun saudara Ardi atas semua ini. Cindy, kakak harap apapun yang pernah ada diantara kita, anggap saja itu tidak pernah ada. Saudara Ardi saya mohon tolong jaga Cindy baik-baik, karena saya sangat mencintainya seperti saudara Ardi pun mencintai dia.”
”Rendy kami juga ingin berterima kasih karena selama ini saya tahu mungkin Rendy telah banyak membantu dan menjaga Cindy. Maafkan atas semua ini.”
”Sama-sama Om Gunawan, kalau begitu saya pamit untuk pulang sekarang.”
Aku sudah tidak sanggup berlama-lama dalam suasana seperti ini. Air mataku rasanya akan segera tumpah. Om Gunawan lalu mengantarku ke stasiun kereta. Setelah turun dari mobil dan pamit pada Om Gunawan, aku segera berlari ke tempat sepi dan menumpahkan seluruh air mataku. Aku berlutut di tanah. Rasanya aku tak kuasa menerima kenyataan hidupku.

        Hatiku perih, semua impian dan harapan-harapanku yang telah kubangun tinggallah kenangan. Dia yang aku bangga-banggakan pada keluargaku ternyata telah menghancurkan semuanya. Entah apa yang akan kujelaskan nantinya pada mamaku. Ketika mamaku sendiri sudah mulai bisa menerima kehadiran Cindy tapi semua sudah terlambat. Entahlah seandainya aku tidak ingat dosa dan keluargaku rasanya aku ingin mati saja. Aku mendongak kelangit. Bangkit dari kehancuran dan kesedihanku. ”Ya Allah semua ini adalah rencanamu, bila Cindy memang bukan yang terbaik untukku aku ikhlas! Berikanlah aku kekuatan untuk menerima semua cobaan ini.” Doaku dalam tangisku. Dengan gontai kulangkahkan kakiku untuk pulang. Aku yakin esok pasti akan datang dan saat itulah aku harus menyonsongnya. Berdamai dengan masa lalu dan aku tidak boleh takut akan hari esok. Itulah tekadku.





                                                                                        THE END

Sabtu, 27 Agustus 2011

KERINDUAN YANG PERIH

Cerpen FIKSI ini pernah saya ikutkan untuk lomba Flash Fiction sebanyak 400 kata, syaratnya emang harus 400 kata hehe..Temanya tentang KERINDUAN, meskipun nggak juara tapi saya sudah seneng bisa ikut berpartisipasi, ini dia CERPENNYA....

KERINDUAN YANG PERIH

oleh: M.YUSUF PUTRA SINAR TAPANGO
pada 19 Maret 2011 jam 1:15
 
 
         Kupandangi foto Naya. Kerinduan padanya menghentak dadaku. Menggebu-gebu. Dua tahun kini kumeninggalkannya. Merantau. Mencari uang,  untuk mahar seperti yang diharapkan orang tuanya. Anganku terbang jauh. Menyelinap masuk kedalam ruang waktu, yang telah lama berlalu. Teringat ketika itu.
”Apa? Kamu mau menikahi anakku, kerja tidak punya! Lalu dengan apa kamu nanti menafkahinya? Hanya bermodal cinta! Kamu mengerti, jika menikahi perempuan itu, harus membawa mahar. Itu adat sebagai orang sulawesi,..”. Aku terdiam. Apalah dayaku sebagai orang tak mampu. Emosi, terhina tapi kusadar itu benar adanya. Pedih terasa. ”Dasar orang tua matre”, gerutuku. Kulirik Naya yang hanya tertunduk bergelimangan air mata. Aku berlalu pergi.
            Pagi itu, surya bersinar malu. Embun pagi dedaunan memberi kesejukan. Kurapatkan jaket, kuangkat rangsel bututku ke pundak. Pamit pada Ibu dan adik-adikku. Di antara samar kabut pagi itu, kulihat sosok Naya berdiri. Aku terhenti sejenak di ujung jalan setapak. Terdiam seolah tak percaya. Tiba-tiba sosok itu berlari, menabrak, memeluk, membuyarkan keterpakuanku. Kubelai rambutnya. Kutatap matanya. Ada Perih  mengoyak hatiku. Mata beradu tanpa kata. Air mata pun tumpah. Kusandarkan ia di dadaku.

”Sayang...aku pergi untuk sementara. Jaga diri yah, aku pasti sangat merindukanmu. Aku akan berkirim surat, setelah tiba di Jakarta,”
”Kak Rendy...rasanya tak sanggup kehilanganmu di sisiku, meski hanya sementara.” Suara Naya lirih diantara isaknya. Hening sesaat. Lama kami terdiam. Perlahan kulepaskan pelukanku. Tangannya kugenggam erat.
”Sayang ini memang berat, aku harus pergi. Semua ini kulakukan untuk membuktikan pada orang tuamu. Setelah mengumpulkan uang, aku  pulang melamarmu.”
Aku meninggalkannya dengan berurai air mata. Kulangkahkan kaki tanpa menoleh ke belakang. Kesedihan itu tak terkira rasanya. Yah...dua tahun sudah saat itu berlalu. Aku sangat merindukannya. Ia menjadi sulu hidupku di kota besar ini. Setiap bulan, lewat sepucuk surat kukabarkan tentangku. Balasan suratnya setia menghampiri, pengobat rinduku. Namun dua bulan kini, suratku tak terbalas. Akhirnya kuputuskan pulang kampung.

            Kerinduan kurasakan kini di ambang batas. Tergesa menapaki jalan setapak rumahku. Ibu dan adik-adikku, terperanjat kaget dan girang saat kuberdiri di depan pintu. Serentak memelukku. Kami pun terharu, melepas rindu. Aku pamit untuk menemui Naya, tapi semua membisu. Kubalik badan, namun tangan ibu segera menarikku. Ia menggeleng.
”Nak...Naya telah menikah dengan pilihan orang tuanya tiga minggu lalu, maaf kami tidak  tega memberitahumu”. Bibirku terkunci. Seluruh tulangku seolah akan segera lepas dari persendian. Aku tersungkur ke lantai dengan air mata kerinduanku, yang kini terjawab dengan kehilangannya. Perih tapi nyata. Ibu memelukku memberi kehangatan. Memberi isyarat jika aku harus ikhlas menerima kenyataan ini.





SELAMAT JALAN DINAR

Puisi ini kupersembahkan untuk  adik, sahabat, gadis unyu, seorang penulis berbakat, teman kelas di Unversal Nikko, seorang Cendolers yang berusia 17 tahun telah pergi meninggalkan dunia...

Selamat Jalan Dinar

oleh M.Yusuf Putra sinar Tapango
pada 19 Juni 2011 jam 10:27
 
Tak terasa naluri lelakiku lunglai...
Kristal bening menguap di kelopak mataku...
Tercengang dan memaksaku merenung...
Hidup itu adalah hembusan nafas...
Hidup itu adalah irama jiwa...
Dalam simfoninya terpahat nada-nada...
Emosi jiwa, marah, senang, benci, bahagia...
Semua terekspresi dalam bahasa tubuh...
Terlukis pada raut wajah yang beraneka warna...
Namun jika jiwa telah terlepas pada raga...
Semua lenyap bersama hadirnya derai air mata...
Siapakah yang mampu mencegah-Nya?
Adakah yang bisa melarang-Nya?
Yah Allah...yah Tuhan kami...
Kami tahu air mata tak akan bisa mengubah apapun
Tapi izinkanlah kami memohon...
Tempatkanlah ia disisi-Mu dengan layak...Amin!
Selamat jalan Dinar...
Goresan penamu akan menjadi kisah yang indah...



BEKASI 19 JUNI 2011...

Jumat, 26 Agustus 2011

HIDUP ITU HITAM PUTIH

Kawan rasanya ingin kutampar wajahmu
Marah, tentu aku sangat marah!
Tak perlu kau bertanya lagi!
Kau selalu merasa terasing
Selalu merasa gagal...
Kawan lihatlah di sana
Jika mereka saja tak berhenti menari di lampu merah
Jika mereka saja tak pernah lelah menggapai dunia
Mengapa kau membiarkan dirimu tersungkur dalam penat jiwamu...

Kawan terlalu indah hidup untuk kau tangisi
Terlalu naif jika rasamu kau benamkan dalam riak kelam jiwamu
Biarkan semua itu berlalu seperti debu
Ciptakan angin sepoi dalam dirimu untuk menerbangkannya
Hadirkan sentuhan lembut bernada indah
Yakinlah kawan jika terang akan berganti gelap
Begitupulah hitam selalu ada putih bersamanya
Dan ketahuilah hidup itu HITAM DAN PUTIH...